KETIKA MANUSIA TAK BERBEDA DARI MAKHLUK MELATA


Oleh: Usth. LI Nafisah Hawa


Ketika disuguhkan dengan pertanyaan, “Apa perbedaan manusia dan hewan?” Kebanyakan dari kita akan menjawab bahwa manusia memiliki akal, sedangkan hewan tidak memilikinya. Namun, bagaimanakah Al-Qur’an menjawab pertanyaan tersebut?


Allah ﷻ berfirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ


“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf:179).


Di dalam kitab Tafsir al-Jalalin dijelaskan bahwa Allah ﷻ telah menciptakan sebagian besar dari golongan jin dan manusia sebagai bakal calon penduduk neraka Jahannam. Mereka adalah yang tidak menggunakan hati untuk memahami kebenaran, tidak menggunakan mata untuk melihat agungnya kekuasaan Allah, serta tidak memanfaatkan telinga untuk mendengarkan ayat-ayat-Nya sebagai bentuk tadabur dan peringatan bagi mereka.


Kedudukan mereka di dunia layaknya binatang yang dungu, buta, dan tidak mampu mendengar kebenaran. Atau bahkan lebih sesat dari hewan. Mengapa demikian? Dikatakan lebih sesat, karena binatang dengan instingnya hanya menginginkan sesuatu yang bermanfaat dan pergi menjauh dari sesuatu yang berbahaya. Sedangkan golongan jin dan manusia ini, justru berani menantang ancaman siksa api neraka. (Tafsir al-Jalalain, 1/221).


Sehingga, mereka menjadi seburuk-buruk makhluk dan menjadi golongan orang-orang yang lalai.


Penjelasan senada juga disebutkan dalam kitab Tafsir al-Muyassar. Dijelaskan bahwa Allah telah menciptakan golongan-golongan calon penduduk neraka. Mereka memiliki hati namun tidak digunakan untuk merenungi. Sehingga, mereka sama sekali tidak mengharapkan pahala dan tidak takut terhadap ancaman siksa.


Mereka memiliki mata, namun tidak digunakan untuk melihat ayat dan petunjuk-petunjuk-Nya. Mereka memiliki telinga, namun tidak digunakan untuk mendengarkan Al-Qur’an dan merenungi ayat-ayatnya.


Perumpamaan mereka itu seperti hewan ternak yang tidak faham makna ucapan ketika diajak berbicara dengannya. Tidak mengenali suatu benda walaupun diperlihatkan di depan matanya. Tidak dapat memahami baik-buruknya sesuatu, sehingga tidak mampu membedakannya. Bahkan golongan jin dan manusia ini lebih sesat dari hewan ternak.


Secara naluri, hewan mampu melihat hal yang bermanfaat dan berbahaya baginya. Serta selalu patuh mengikuti perintah si penggembala. Sedangkan golongan ini sebaliknya, golongan penentang dan tidak taat pada instruksi Rabbnya. Mereka adalah orang-orang yang lalai dari keimanan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. (At-Tafsir al-Muyassar, 1/174).


Dari ayat di atas, dapat kita simpulkan bahwa yang membedakan manusia dengan binatang bukanlah ada atau tidaknya akal dalam dirinya. Namun, hal yang membedakan mereka adalah bagaimana manusia dapat menggunakan akal dan fikiran mereka, sekaligus memaksimalkan semua alat pengindra yang Allah berikan untuk mendengar, melihat dan mentadabburi ayat-ayat-Nya.


Karena, di dalam ayat tersebut Allah tidak menyebutkan manusia ataupun jin yang tidak memiliki akal. Melainkan yang disebut adalah golongan yang memiliki akal namun tidak digunakan sebagaimana mestinya. Alat yang disebutkan bukan berupa otak untuk berfikir, melainkan hati yang digunakan untuk merenung.


Orang yang beriman, ketika berfikir dan merenung tidak pernah menggunakan otak sebagai perangkat utama untuk mengolah informasi. Mereka selalu mendahulukan hati dalam memahami setiap informasi dalam ayat-ayat kauni maupun ayat-ayat syar’i.


Sehingga, pemahaman yang dihasilkan tidak hanya melahirkan teori, akan tetapi melahirkan hikmah berupa perbaikan sikap, baik sikap dalam tindakan maupun perkataan. Dengan sikap inilah dapat terlihat perbedaan antara dirinya dengan binatang.

Wallahu A’lam


Editor: Abu Abdirrahman
Referensi:
a. Kitab Tafsir al-Jalalain karya Jalaluddin as-Suyuthi & Jalaluddin al-Mahalli
b. Kitab At-Tafsir al-Muyassar karya beberapa ulama tafsir