Potret Keshalihan Diri

oleh: Ihsan Nur Rohim

(Kelas 3 KMI)


Hallo kawan. Gimana kabar? Sehat?

Kawan, tentu kita rindu surga bukan? Nah, surga pun merindukan kita, tapi ada syaratnya. Karena surga adalah tempat yang mulia, memiliki derajat yang tinggi, tak akan bisa dimasuki kecuali oleh orang-orang yang se-frekuensi dengannya. Merekalah orang-orang shalih. Lalu Siapa orang-orang yang shalih itu? Siapa hayo?


Meski fitrahnya suci, seorang anak yang baru lahir belum bisa dihukumi sebagai orang yang shalih. Sebab belum teruji.


Kawan, “Menjadi manusia itu pasti, tetapi menjadi shalih adalah pilihan.” Ungkapan ini yang pernah disampaikan oleh ustadz Amir Abdillah kepada kami. Orang yang shalih itu memilih untuk memberi, bukan berpikir untuk meminta. Padahal umumnya, manusia cenderung lebih mencari untung sendiri ketimbang berbagi dengan sesama. Egois. Tapi ketahuilah, justru dengan memberi kita menjadi memiliki.


Memiliki harta sejati dengan berinfak. Memiliki cinta yang tulus dengan empati. Memiliki kesempatan dengan beramal. Memiliki cita-cita dengan berkarya. Memiliki kesuksesan dengan proses berkesinambungan. Memiliki waktu dengan berbakti. Memiliki hati dengan berbagi. Memiliki kepercayaan dengan keteladanan. Miliki keikhlasan dengan ketulusan. Dan mengharap kebahagiaan dunia-akhirat dengan amalan yang bermanfaat.


Kawan, Pahlawan Sejati hadir untuk berkarya. Waktu yang kita miliki selalu sama, 24 jam. Hal yang membedakan hanya pada cara mengelola, memanfaatkan dan mengisi detik demi detik waktu tersebut. Ketika mereka sudah berpikir untuk berkarya, kita justru masih berpikir betapa malas dan susahnya membaca karya-karya mereka.


Al-Qur’an menjelaskan bahwa, “Setiap orang berbuat menurut pembawaan (bakat) masing-masing.” (Al-Isra’: 84). Kawan, orang lain berbeda dengan kita. Karena Allah menciptakan manusia dengan masing-masing keunikannya.


“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang paling taqwa. Sesungguhnya Allah maha Mengetahui lagi maha Mengenal.” (Al-Hujurat : 13).


Kawan, di sinilah. Di pondok ini, mari menjadi shalih dengan menyimpul tali ukhuwah. Menerima berbagai keunikan dan banyak memberi udzur terhadap kekurangan kawan. 


Caranya? Dengan Ta’aruf, (Saling mengenal). Tafahum (saling memahami beban) dan Takaful (saling memikul beban). Mari! bersinergi untuk menjadi shalih dengan keunikan masing-masing. Karena keunikan ini yang akan membuat Islam menjadi berwarna.


Ada Abu Bakar yang lembut. Ada Umar yang keras dan tegas. Ada Utsman yang pemalu dan derwaman. Serta ada Ali yang gagah pemberani. 


Mungkin kita sudah paham, tapi orang lain belum. Ada kekurangan, ada pula di sana kelebihan. Maka, berikan respek terhadap keunikan orang lain, inilah yang akan mendewasakan kita.


Oke, Cukup sekian. Semangat kawan! Teruntuk my class “Nihai”, semangat! Ini sudah Februari, bentar lagi kok. Semoga di bulan ini menjadi awal yang baik untuk perubahan diri. Sehingga makin mahir mengelola hati dan perasaan menjadi terkendali. Tetap berpegang pada aturan Ilahi. Tetap semangat memperbaiki diri. ^_^ 


Semangat terus sampe lulus!


ditulis pada: 4 Februari 2022

Editor: Abu Abdirrahman