Kenali Penyakit Hatimu!

Tazkiyatun Nafs: Intisari Ihya’ Ulumuddin

Ketahuilah bahwa setiap anggota badan diciptakan untuk suatu fungsi tertentu, sedangkan sakitnya anggota badan ialah apabila ia tidak berfungsi sebagaimana mestinya baik karena fungsi itu tidak muncul atau muncul tetapi disertai semacam ketidakstabilan. Sakit tangan ketidakmampuannya untuk memegang, dan sakit mata ialah ketidakmampuannya untuk melihat. Demikian pula sakitnya hati ialah tidak berjalannya fungsi penciptaan hati; yaitu menyerap ilmu, hikmah, dan ma’rifah, mencintai Allah, ibadah kepada-Nya, merasakan kelezatan dengan mengingat-Nya, mengutamakan semua itu ketimbang semua syahwat, meminta bantuan semua syahwat dan organ untuk melaksanakan fungsi tersebut. Allah berfirman:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Dalam setiap organ terdapat fa’idah (fungsi), sedangkan fungsi hati adalah hikmah dan ma ‘rifah yang merupakan keistimewaan jiwa yang dimiliki manusia. Dengan fungsi tersebut manusia berbeda dari binatang. Manusia tidak berbeda dari binatang bukan karena kemampuannya untuk makan, melakukan hubungan biologis, melihat atau lainnya, tetapi karena mengetahui sesuatu sebagaimana mestinya. Asal pencipta dan penemu sesuatu adalah Allah ‘azza wa jalla yang menjadikannya sebagai sesuatu. Jika manusia mengetahui segala sesuatu tetapi tidak mengetahui (ma’rifah) Allah maka ia dianggap tidak mengetahui apa-apa. TAnda ma’rifah ialah cinta. Siapa yang mengetahui Allah pasti mencintai-Nya. Sedangkan tAnda cinta ialah mengutamakan-Nya ketimbang dunia atau hal-hal yang dicintai selain-Nya, sebagaimana firman Allah:

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat ting gal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (at-Taubah: 24)

Siapa yang lebih mencintai sesuatu daripada Allah maka hatinya sakit, sebagaimana setiap perut yang lebih menyukai tanah ketimbang roti dan air atau tidak berselera kepada roti dan air maka perut tersebut berarti sakit. Itulah tAnda-tAnda penyakit dan dengan hal ini diketahui bahwa semua hati menderita sakit kecuali yang dikehendaki Allah.
Adapun tanda-tanda pulih kesehatannya setelah diterapi ialah memperhatikan penyakit yang diterapi. Jika penyakit yang diterapi adalah penyakit kebakhilan maka terapinya adalah dengan memberikan dan menginfaqkan harta. Tetapi bisa jadi dalam memberikan harta ia justru melakukan tabdzir yang juga merupakan penyakit. Jika ia melakukan hal tersebut, Ia seperti orang yang mengobati kedinginan dengan panas sampai berlebihan yang akhirnya menjadi penyakit juga, padahal yang diperlukan adalah keseimbangan antara panas dan dingin.

Demikian pula yang diperlukan adalah keseimbangan antara perilaku tabdzir dan bakhil. Jika Anda ingin mengetahui pertengahan maka perhatikanlah perbuatan yang diharuskan dan yang terlarang; jika bagi Anda ada sesuatu yang lebih mudah dan lebih lezat dari yang bertentangan dengannya maka hal yang mendominasi diri Anda adalah sifat yang mengharuskannya. Seperti jika menahan harta dan mengumpulkannya lebih lezat dan lebih mudah bagi Anda daripada memberikannya kepada yang berhak maka ketahuilah bahwa hal yang mendominasi diri Anda adalah sifat bakhil, sehingga Anda harus senantiasa meningkatkan pemberian harta.

Jika memberikan harta kepada orang yang tidak berhak lebih lezat dan lebih ringan bagi Anda ketimbang menahannya secara benar maka hal yang mendominasi diri Anda adalah kemubadziran. sehingga Anda harus kembali membiasakan menahan. Senantiasalah mengawasi diri Anda dan mengenali akhlaq Anda dengan kernudahan dan kesulitannya dalam mengambil keputusan. Sehingga, keterikatan hati Anda terputus dari perhatian kepada harta, sehingga tidak cenderung untuk memberikannya dan tidak pula cenderung untuk menahannya, tetapi di sisi Anda menjadi seperti air.

Pada saat itulah jiwa tersebut telah kembali kepada Tuhannya sebagai jiwa yang tenang yang ridha dan diridhai Allah dan masuk ke dalam rombongan hamba-hamba Allah yang dekat kepada-Nya dari kalangan para Nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin yang merupakan sebaik-baik teman.

Karena sikap pertengahan yang sejati antara dua sisi tersebut sangat rumit, bahkan lebih halus ketimbang rambut dan lebih tajam dari pedang, maka tidak diragukan lagi bahwa orang yang bisa menjaga keseimbangan di atas jalan yang lurus di dunia pasti akan melaju di atas jalan di akhirat. Dan sedikit sekali hamba yang terbebas dari penyimpangan dari jalan yang lurus —yakni jalan tengah— kepada salah satu sisi di antara dua sisi sehingga hatinya terkait dengan sisi yang dicenderunginya. Oleh sebab itu, ia tidak terbebas dari siksaan di neraka sekalipun secepat kilat ketika ia melewati shirot. Allah berfirman:

“Dan tidak ada seorang pun di antara kalian, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa….” (Maryam: 71-72)

Yakni orang-orang yang kedekatan mereka dengan jalan yang lurus lebih banyak daripada jauhanya. Dan karena susahnya istiqamah maka setiap hamba wajib berdo’a kepada Allah dalam setiap hari tujuhbelas kali dalam bacaan shalatnya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus,” sebab ia wajib membaca al-Fatihah dalam setiap raka’at.

Diriwayatkan bahwa sebagian mereka melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam mimpi lalu mereka bertanya: “Sesungguhnya engkau telah bersabda wahai Rasulullah bahwa ‘surat Hud telah membuatku beruban’; mengapa engkau bersabda demikian’? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: Karena firman Allah: “Maka istiqamah- lah sebagaimana kamu diperintahkan” (Hud: 113)

Jadi, istiqamah di atas jalan yang lurus sangat sulit, tetapi manusia harus bersungguh-sungguh untuk mendekati istiqamah sekalipun tidak mampu mencapai hakikatnya. Setiap orang yang menginginkan keselamatan maka tidak akan ada keselamatan baginya kecuali dengan amal shalih, sedangkan amal shalih tidak akan lahir kecuali dari akhlaq yang baik. Oleh sebab itu, hendaklah setiap hamba mencermati sifat-sifat dan akhlaqnya; hendaklah ia memeriksanya dan melakukan terapi terhadapnya satu demi satu secara berurutan. Kita memohon kepada Allah semoga berkenan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertaqwa.

Sa’id Hawwa