PENDIDIKAN ANAK; PENDIDIKAN DUA SISI MATA UANG


Menyoal pendidikan anak berarti menyoal pendidikan generasi penerus selanjutnya. Urgen ; adalah kata yang paling tepat untuk menilai hal ini. Hal mana ada visi misi besar yang hendak dicapai, yaitu mencetak generasi yang berakhlak mulia dan berkarakter tangguh, yang nantinya berperan bagi kemajuan agama, negara dan bangsa.

Maka, pendidikan anak bukan hanya sekedar berbicara ‘sekolahan’, di mana orang tua menitipkan buah hatinya kepada guru, anak berangkat ke sekolah untuk mendengar maklumat dan ilmu dari guru, orang tua membayar biaya pendidikan, dengan anggapan sudah memberikan bentuk tanggung jawab terbaik dan segudang ekpektasi bahwa anaknya menjadi anak yang pintar, baik, sebagaimana yang diharapkan.

Sayangnya, paradigma ini tidak semua dari masyarakat memahami, terkhusus orang tua. Imbasnya sering kali terjadi kasus semisal seorang siswa yang secara tingkah laku dan ucapan tidak sesuai dengan apa yang diajakan guru, yang kemudian setelah ditelisik anak berperilaku demikian tersebab siswa suka meniru apa yang ia lihat di rumah dan terpengaruh dari lingkungan tempat ia tinggal.

Lebih ironis, orang tua menganggap bahwa apa yang terjadi adalah bentuk kegagalan sistem pendidikan yang ada di sekolah, serta melimpahkan kesalahan pada guru yang mereka rasa tidak bertanggung jawab atas buah hati mereka.

Lalu bagaimana pendidikan akan menuai hasilnya jika hal semacam ini dibiarkan saja, hal ini bak rantai keburukan yang segera diputus. Selain itu, tidak adil jika guru atau penyelenggara pendidikan selalu menjadi objek blaming. Sebab, penanggung jawab utama pendidikan anak sebenarnya adalah  orangtua, sedangkan guru adalah orang-orang yang telah berkhidmat membantu para orangtua melaksanakan tugas tersebut.

Menyatukan Dua Sisi Mata Uang (Orang Tua dan Guru)

Guru dan orang tua adalah dua petani ilmu yang berbeda lahan persemaian, yakni sekolah dan keluarga. Mereka perlu bersinergi, karena sama-sama bertanggungjawab terhadap keberhasilan pendidikan dan masa depan para generasi bangsa.

Sinergi dalam konteks mendidik dapat diartikan suatu bentuk kerjasama yang harmonis untuk menanam benih-benih pengetahuan. Kerja sama tersebut dijabarkan dalam program-program realistis yang dapat diimplementasikan secara kontinyu, dengan gerak yang sinkron, serta konsisten. (Gus Setyono, 2008)

Dalam suatu kasus misalnya, akibat guru yang kurang mengikuti perkembangan teori mengajar, dia menerapkan standar mendidik sama seperti masa kecilnya. Sementara orang tua ada yang justru telah mengetahui bagaimana metode pendidikan modern dan motivasi yang dapat mengembangkan potensi anak secara maksimal. Akibatnya, saat orang tua berusaha membangun karakter, menggali potensi dan kepercayaan diri, ada guru yang malah merusaknya dengan berbagai sikap atau perkataan yang melemahkan dan menyinggung harga diri si anak, atau tanpa disadari menciptakan suasana belajar-mengajar di sekolah menjadi sangat membosankan.

Pada situasi lain, guru berusaha memacu pengetahuan akademik. Sementara itu, karena banyak orangtua yang kurang memiliki pengetahuan akademik maka keinginan anak untuk belajar di rumah dengan bimbingan orang tuanya tidak terlunasi.

Akibat cara mendidik yang tidak sinkron inilah yang dapat menyeakan anak tenggelam dalam kebingungan. Mana yang mesti diserap, mana yang benar dan yang salah. Sehingga, saat anak terjerembab di lingkungan dengan perilaku serta budaya yang cenderung negatif akibat laju globalisasi, mereka tidak bisa memutuskan mana yang baik dan yang buruk.

Disinilah letak betapa pentingnya sebuah komunikasi antar semua pihak agar ketika ada indikasi ketidaksepahaman pendapat atau masalah tidak berakhir sebagai sesuatu yang menyudutkan salah satu pihak. Karena pada dasarnya, komunikasi yang baik adalah salah satu modal penting dalam proses pengembangan dan peningkatan sekolah agar terhindar dari kesalahpahaman atau miss comunication yaitu antara pihak sekolah dengan orang tua.

Revolusi Bersama

Pendidikan memiliki unsur-unsur yang harus dipenuhi. Pendidikan bermutu adalah yang bisa mengoptimalkan semua unsur-unsur tersebut. Keseriusan satu pihak tanpa dukungan dari pihak-pihak lain yang terkait akan sulit meraih kesuksesan.

Jalur pendidikan keluarga yang utama adalah proses pendidikan yang berlangsung di lingkungan keluarga itu sendiri. Jalur ini sering dikatakan sebagai basis pendidikan anak. Jalur dimana anak dilahirkan, dibesarkan dan memperoleh pendidikan pertama sebelum mendapat pendidikan di jalur lain. Pola pendidikan yang berlaku dalam keluarga akan mewarnai kepribadian anak.

Pendidikan dalam keluarga semata belumlah cukup. Anak tidak mungkin terus menerus dididik oleh kedua orang tua di lingkungan keluarga. Oleh sebab itu jalur pendidikan di sekolah sangat dibutuhkan untuk perkembangan anak berikutnya.

Wajar kalau banyak orang mengatakan, perlu ada sinergisitas antara jalur pendidikan keluarga dengan pendidikan sekolah. Pendidikan di lingkungan keluarga lebih menekankan pada aspek kepribadian, sementara ranah lainnya diserahkan pada jalur pendidikan sekolah. Sinergi kedua jalur ini akan melahirkan anak yang beriman dan bertaqwa, memiliki kepribadian yang baik, mempunyai ilmu pengetahuan serta kecakapan hidup.

Tak dipungkiri juga bahwa stake holder sekolah dan pemerintah memiliki andil yang cukup besar untuk menentukan arah pendidikan di negara ini. Para pengambil kebijakan tersebut perlu mencermati dan mempertimbangkan setiap kurikulum yang dicanangkan. Begitu juga dengan para pakar pendidikan agar terus menjaga budaya kritis terhadap praktik pendidikan yang berjalan di masyarakat. Agar pendidikan yang kita laksanakan bukan hanya menghamburkan biaya, waktu dan energi. Tapi mewujudkan pendidikan yang dapat dirasakan manfaatnya bagi seluruh bangsa. (*)

Oleh: Haunaa Khaira