HIKMAH AYAT: MENSHALIHKAN INDUK GENERASI

Surat Al-Qalam ayat 17

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ

“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka- (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari”

Dahulu kala ada sekelompok orang yang memiliki kebun yang sangat subur, tanahnya sangat luas, buah-buahan yang tumbuh juga beraneka ragam.

Kebun tersebut merupakan warisan dari ayah mereka yang sangat shalih, yang semasa hidupnya gemar sekali bersedekah dari hasil perkebunan milinya.

Suatu hari di musim panen, para pemilik kebun itu merasa khawatir jika orang-orang miskin datang dan mengambil hasil perkebunan mereka. Akhirnya, mereka bersumpah dan bersekongkol untuk memanen sebelum matahari terbit, dengan maksud agar orang-orang miskin tidak mengetahui bahwa mereka sedang memanen kebunnya.

Nahas, sesampainya mereka di kebun, mereka dikejutkan oleh perkebunan yang gosong terbakar tanpa sisa sedikitpun; buah-buahan hangus, tanahnya menjadi kering gersang, sampai mereka menyangka salah tempat. Tetapi setelah diperhatikan dari berbagai sisi pada akhirnya mereka yakin apa yang ada di hadapan mereka benar-benar perkebunan yang mereka rawat selama ini.

Lantas, seketika itu mereka tersadar, bahwa ini merupakan teguran dari Allah atas niat buruk mereka, atas kekikiran mereka yang tidak mau berbagi dengan orang-orang miskin yang membutuhkan. Mereka pun menyesal dan bertaubat, meski nasi telah menjadi bubur, walaupun penyesalan mereka tidak mengembalikan keadaan seperti semula.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa taubat mereka merupakan faedah atau rahmat yang Allah berikan karena keshalihan ayah mereka dahulu. Pemahaman terbaliknya, kalau saja dahulu ayah mereka bukan orang yang shalih, kemungkinan para pemilik kebun itu tidak menyadari kesalahan mereka, sehingga mereka terus berada dalam kedzaliman.

Dari penjelasan tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa di antara syarat shalihnya sebuah generasi adalah keshalihan induk. bahwa perbaikan generasi itu harus diawali dari perbaikan induk.

Maka, ketika kita mengharapkan generasi penerus yang shalih, yang pertama kali harus kita perhatikan adalah keshalihan diri kita sendiri. Perbaikan generasi bermula dari perbaikan diri:

Pertama keshalihan itu bisa menurunkan berkah dan rahmat bagi generasi selanjutnya. Dan keshalihan salah satunya didapat dari keberkahan. Kenapa hari ini banyak tunas-tunas yang rusak. Bisa jadi, karena banyak keberkahan yang Allah tahan, dan tak lain diantara sebabnya adalah dosa dan kemasiatan yang dilakukan.

Kedua induk adalah teladan. Mereka yang lahir setelah kita, akan melihat pribadi kita sebagai contoh. Induk shalih memberi contoh kebaikan, sedang induk yang rusak akan menjadi pelopor kerusakan.

Ketiga mendidik generasi merupakan pekerjaan yang sangat berat. Sementara kita adalah makhluk yang penuh dengan keterbatasan. Oleh karena itu, kita sangat butuh bantuan Dzat yang kuasa-Nya tidak terbatas. Sedang wasilah agar Allah mudah mengulurkan bantuan-Nya tak lain adalah dengan jalan mendekat kepada-Nya dan menshalihkan diri.

Jadi bagi kita yang sedang berjuang untuk menshalihkan generasi, jangan sampai lalai untuk menshalihkan diri.
Wallahu A’lam bish shawab

Sumber : Tafsir Ibnu Katsir

Oleh : Ustadzah Li Nafisatil Hawa