Membudayakan ‘Tabayyun’; Cek Data Sebelum Bicara


Manusia diciptakan dengan tabiat tergesa-gesa, dalam segala halnya. Seringkali manusia melangkah tanpa berpikir masak tentang akibatnya, yang tak jarang menuai penyesalan di akhirnya. Tentu saja sifat ini tercela, sehingga banyak nash al-Quran maupun Sunnah yang mencela keberadaanya. Allah berfirman:

خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُو

Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepada kalian tanda-tanda (azab-Ku), Oleh karena itu, janganlah kalian minta kepada-Ku untuk mendatangkannya dengan segera” [al-Anbiya: 37]

Adapun faktor tumbuhnya sifat ini bisa karena terdorong oleh keinginan yang amat kuat untuk meraih atau mewujudkan suatu hal, atau bisa juga tidak adanya cara pandang atau mindset yang menyeluruh dan utuh terhadap suatu perkara.

Ternyata ini merupakan penyakit akut yang menjangkiti umat saat ini. Diantara yang paling akut hari ini adalah sikap ketergesaan dalam mengambil kesimpulan dari sebuah berita, atau sebuah kejadian sebelum tahu duduk perkara yang sebenarnya. Hal mana seringkali berimbas pada follow up tindakan atau bahkan kebijakan yang tidak semestinya.

Sebagai seorang muslim harusnya lebih bijak, terlebih saat ini di mana berita sangat mudah untuk didapat dan dikonsumsi. Syariat telah mengarahkan agar bersikap tenang dan selalu melakukan verifikasi (tabayyun), terlebih jika mendapatkan kabar yang janggal dan sukar dipercaya.
Allah ﷻ berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلىَ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ


Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasiq dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al Hujurat : 6)

Membudayakan Tabayyun

Tabayyun atau tatsabut artinya mencari kejelasan, tetap tenang dalam mencerna berita, dan tidak tergesa untuk menerima. Membudayakan tabayyun sama saja usaha untuk menghilangkan sifat tergesa-gesa, terutama dalam menyimpulkan berita. Dalam ayat diatas Allah Ta’ala memerintahkan setiap kali kaum muslimin mendapati berita dari orang fasik harus dicari kejelasannya.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan verifikasi terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta atau keliru.”(Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. 7/370)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di saat menerangkan ayat di atas, , “Termasuk adab bagi orang yang cerdas yaitu setiap berita yang datang dari orang kafir hendaknya dicek terlebih dahulu, tidak diterima mentah-mentah. Sikap asal-asalan menerima amatlah berbahaya dan dapat menjerumuskan dalam dosa. Jika diterima mentah-mentah, itu sama saja menyamakan dengan berita dari orang yang jujur dan adil. Ini dapat membuat rusaknya jiwa dan harta tanpa jalan yang benar. Gara-gara berita yang asal-asalan diterima akhirnya menjadi penyesalan.

Sekali lagi, apabila datang berita dari orang fasik, hendaklah benar-benar dilakukan verifikasi. Jika sudah dapat bukti akan benarnya berita tersebut, baru boleh diterima. Jika terbukti dusta, maka jelas harus didustakan dan tidak boleh diamalkan.” (‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisir Karim ar-Rahman fi Tafsiri Kalam al-Manan, 799)

Abdurrahman as Sa’di lanjut menjelaskan, “Ayat tersebut juga menjadi dalil bahwa berita dari orang yang jujur itu diterima. Sedangkan berita dari orang yang berdusta, tertolak. Sehingga berita dari orang fasik, maka didiamkan. Oleh karenanya salaf tetap masih menerima riwayat dari orang Khawarij yang terkenal jujur walau ia fasik.” (ibid)


Ayat ini sangat kontekstual dalam kehidupan kita, terutama sekarang ini dimana informasi berhamburan tak terkendalikan. Pesan dari ayat tersebut pun sangat kuat. Jika ada seseorang membawa kabar penting, hendaklah kebenarannya perlu diselidiki, tentu saja apabila berita itu datang dari orang fasik. Sebab, seorang yang shalih tidak mungkin dengan mudahnya untuk menyebarkan sebuah berita, apalagi belum jelas kebenarannya.
Terlebih jika orang tersebut membawa berita keburukan mengenai orang lain, orang yang jujur pasti tidak mentah-mentah menelan berita tersebut. Karena hanya pendusta yang akan membicarakan apa saja yang ia dengar.


Kemudian, fakta benar atau tidaknya berita buruk tersebut, tentu saja tidak elok untuk diperbincangkan, apalagi disebar luaskan. Salah-salah hal ini bisa menjatuhkan orang kepada ghibah atau fitnah yang memecah belah.

Terkecuali jika memang ada tujuan baik dari memperbicangkan kabar buruk saudara; diantaranya sebagai langkah untuk mengingatkan. Maka tentu saja hal tersebut tidak dilarang asalkan ditakar selaras dengan ilmu dan adab dalam Islam.

Agar Tidak Berujung Penyesalan

Jelas bahwa tujuan tabayyun adalah agar tidak salah mengambil tindakan yang berujung penyesalan. Atau bahkan mungkin kerugian. Sebagaimana firman Allah ﷻ di akhir ayat:


أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلىَ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ


Agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al Hujurat : 6)

Dalam sebuah riwayat yang menjadi latar belakang turunnya ayat ini, bahwa Rasulullah mengutus Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith untuk memungut zakat di kalangan Bani al-Musthaliq. Ketika warga Bani Musthaliq mendengar kedatangan utusan Rasulullah, yakni Walid, mereka keluar dari perkampungan untuk menyambutnya sambil membawa sedekah mereka, namun Walid justru mengira mereka hendak menyerangnya.

Karena itu, spontan Walid kembali sambil melaporkan kepada Rasulullah bahwa Bani Musthaliq enggan membayar zakat dan bermaksud menyerang Rasulullah. Rasulullah marah dan mengutus Khalid bin Walid menyelidiki keadaan sebenarnya sambil berpesan agar tidak menyerang mereka sebelum pokok persoalannya jelas.

Khalid mengutus seorang informannya menyelidiki perkampungan Bani Musthaliq, di sana didapati warga masih mengumandangkan adzan dan melaksanakan shalat berjamaah, yang itu artinya mereka masih bersetia pada Allah dan Rasul-Nya. Tak lama kemudian Khalid mendatangi mereka dan menerima zakat yang telah mereka kumpulkan. (Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jami al-Bayan fi Ta’wil al-Quran, 22/287)

Kisah dalam riwayat diatas memberikan pelajaran tentang pentingnya mencari kejelasan dari sebuah berita atau peristiwa. Seandainya saja, Rasulullah ﷺ tidak bertabayyun akan berita tersebut, maka tentu akan timbul kerugian dan penyesalan. Kaum yang beriman diluluh lantakan karena tertuduh sudah tidak lagi beriman.

Hal inilah yang kemudian diperingatkan oleh Allah Ta’ala, ketika kita meninggalkan akhlaq baik ber-tabayyun, maka yang akan muncul adalah penyesalan. Tak lain akibat tindakan yang keliru tersebab berita dan peristiwa yang tidak dicari kebenarannya. Wal’iyadzu billah (Risdhi ar-Rasyid)